Menjelang Muktamar NU, Akademisi Soroti Akar Kepemimpinan dan Peran Ulama dalam Perjalanan Bangsa

oleh -19 Dilihat

SURABAYA, Arusindo.id Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sejarah kepemimpinan organisasi kembali menjadi perhatian. Kepemimpinan NU dinilai tidak dapat dipisahkan dari warisan ulama, tradisi pesantren, pengalaman organisasi, serta dinamika kebangsaan yang terus berkembang.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku bertema “Dinamika Kepemimpinan NU dari Muktamar ke Muktamar: Meneladani Jejak Ulama dan Tokoh Bangsa dalam Pemberdayaan Masyarakat” yang digelar SEMA Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Rabu (26/8/2026).

Salah satu buku yang dibedah dalam kegiatan tersebut yakni “Gus Muhaimin Iskandar Meneladani 3 Tokoh: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri”.

Buku tersebut mencoba membaca perjalanan Gus Muhaimin Iskandar melalui keteladanan tiga tokoh besar NU yang memiliki karakter kepemimpinan berbeda, tetapi sama-sama memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan NU dan kehidupan kebangsaan.

Tiga Ulama dengan Karakter Kepemimpinan Berbeda

Penulis buku, Sonny Majid, menjelaskan bahwa KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri memiliki corak perjuangan masing-masing.

KH Hasyim Asy’ari dikenal melalui kekuatan ilmu, akhlak, pesantren dan perjuangan kebangsaan. KH Wahab Hasbullah memiliki kemampuan membaca perubahan zaman, membangun jaringan dan menyusun strategi perjuangan.

Sementara KH Bisri Syansuri dikenal memiliki keteguhan dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus merespons persoalan sosial dan kebangsaan.

Menurut Sonny, ketiga karakter tersebut menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana nilai kepemimpinan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Realitas ini memastikan tokoh kekinian terpengaruh secara ideologis dengan tokoh sebelumnya, termasuk Gus Abdul Muhaimin Iskandar,” ujar Sonny.

Ia mengatakan kepemimpinan seseorang tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang melibatkan keluarga, pendidikan, pengalaman organisasi, lingkungan intelektual dan perjalanan sosial.

Gus Muhaimin Tumbuh dari Lingkungan Pesantren

Dalam pembahasan tersebut, latar belakang keluarga Gus Muhaimin juga menjadi salah satu perhatian.

Sonny menyebut Gus Muhaimin memiliki hubungan nasab dengan KH Bisri Syansuri. Gus Muhaimin disebut merupakan cicit dari salah satu pendiri NU tersebut.

“Gus Muhaimin lahir dari keluarga besar pesantren. Bahkan secara langsung sangat dekat nasabnya dengan Kiai Bisri Syansuri, muassis NU sekaligus Rais Aam NU setelah Kiai Wahab Hasbullah, yakni sebagai cicit,” jelasnya.

Gus Muhaimin saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam Kabinet Merah Putih.

Menurut Sonny, latar belakang pesantren tersebut menjadi salah satu konteks untuk membaca perjalanan Gus Muhaimin sebagai tokoh yang kemudian masuk ke ruang politik dan kebangsaan.

Namun, ia menegaskan pembahasan buku tidak hanya berfokus pada perjalanan politik Gus Muhaimin. Nilai pesantren, tradisi NU dan gagasan pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian yang dikaji.

Sonny berharap generasi muda tidak menilai kepemimpinan hanya berdasarkan popularitas atau jabatan.

“Semakin banyak membaca, akan semakin bijak memilih tentang kepemimpinan yang ideal, bahkan yang seharusnya ada bagi bangsa ini,” katanya.

Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki akar sejarah dan ideologi yang jelas.

“Pastinya, kepemimpinan yang memiliki akar sejarah yang jelas, baik ideologis maupun integritas. Bukan pemimpin yang ujug-ujug datang tanpa memiliki akar ideologis yang jelas,” tegas Sonny.

Literasi Dinilai Penting untuk Membaca Kepemimpinan

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Muhammad Kurjum, M.Ag., mengatakan kegiatan bedah buku tersebut juga memiliki arti penting dalam membangun budaya literasi mahasiswa.

Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah dan gagasan para tokoh agar tidak hanya mengenal mereka berdasarkan informasi yang beredar di ruang digital.

“Ketiga tokoh tersebut memiliki karakter dan corak perjuangan yang berbeda, tetapi semuanya memberikan pelajaran penting tentang bagaimana ilmu, tradisi, kepemimpinan, dan kebangsaan dapat berjalan secara beriringan,” ujarnya.

Prof Kurjum menilai tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar mendapatkan informasi, tetapi menentukan informasi yang benar dan memahami konteksnya.

“Anak muda sekarang tidak kekurangan informasi. Tantangannya justru bagaimana mereka mampu memilih informasi yang benar, memahami konteksnya, dan mengolahnya menjadi pengetahuan,” katanya.

Ia berharap aktivitas membaca dapat berkembang menjadi diskusi, tulisan dan gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Dari membaca akan tumbuh pemahaman. Dari pemahaman akan lahir pemikiran. Dan dari pemikiran yang matang akan muncul gagasan-gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Prof Kurjum.

NU dan Dinamika Kebangsaan

Guru Besar UIN Sunan Ampel sekaligus Plt. Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Prof. Dr. Mohamad Zaini, M.A., menilai sejarah NU menunjukkan kemampuan organisasi tersebut dalam mengikuti perubahan zaman.

Menurutnya, NU tidak tepat jika hanya dilihat sebagai organisasi yang mempertahankan tradisi tanpa kemampuan beradaptasi. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, NU justru terus berkelindan dengan dinamika sosial, politik dan kebangsaan.

Ia menyinggung kajian Mitsuo Nakamura mengenai Islam Indonesia yang turut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap NU.

Prof Zaini mengatakan NU memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa sejak masa pergerakan nasional, kemerdekaan hingga era politik modern.

“Dalam sejarah bangsa ini NU selalu menjadi magnet bagi elite bangsa ini, karena NU merupakan backbone bangsa ini,” ujar Prof Zaini.

Karena itu, ia menilai pembahasan mengenai kepemimpinan NU dari muktamar ke muktamar menjadi semakin penting menjelang Muktamar NU ke-35.

“Forum ini penting bagi siapapun, termasuk akademisi, dalam memahami perkembangan NU dari muktamar ke muktamar. Bahkan semakin menarik apalagi dibahas jelang Muktamar NU ke-35 di Jombang,” tegasnya.

Menatap Muktamar NU ke-35

Seminar dan bedah buku tersebut dihadiri mahasiswa, aktivis organisasi ekstra kampus hingga aktivis kepemudaan di Surabaya.

Forum tersebut menjadi ruang untuk mendiskusikan sejarah NU, keteladanan ulama, perjalanan tokoh bangsa, tradisi pesantren dan pemberdayaan masyarakat.

Menjelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, pembacaan terhadap sejarah kepemimpinan NU menjadi relevan. Organisasi tersebut menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, mulai perkembangan teknologi, perubahan sosial hingga dinamika kebangsaan.

Warisan KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri menjadi bagian dari fondasi yang terus dibaca dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Sementara perjalanan Gus Muhaimin menjadi salah satu contoh bagaimana latar belakang pesantren dan tradisi NU berinteraksi dengan kehidupan kebangsaan di era modern.

Pada akhirnya, kepemimpinan NU tidak hanya berbicara mengenai siapa yang berada di posisi teratas organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan juga menyangkut gagasan, integritas, akar sejarah, kemampuan membaca zaman dan keberpihakan terhadap masyarakat.