Peringati Hari Gajah Sedunia 2026, Kelompok Difabel Malang Gelar Pentas Seni

oleh -31 Dilihat

MALANG, arusindo.id – Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), dan Geopix menggelar peringatan Hari Gajah Sedunia 2026 di Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, pada Minggu (9/8/2026).

Peringatan ini diwujudkan melalui kegiatan edukatif bertajuk “Pentas Seni dan Dongeng Satwa”.

​Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye bersama bertema “Make Elephant Great Again – Kembalikan Kejayaan Gajah”.

Kampanye ini mengajak masyarakat luas menyuarakan perlindungan gajah Indonesia melalui aksi kreatif, edukasi publik, dan pemanfaatan media digital.

​Acara edukasi satwa ini melibatkan sekitar 50 penyandang disabilitas beserta para pendampingnya.

Mereka secara aktif menyasar sedikitnya 300 pengunjung MCC untuk menyampaikan pesan pelestarian alam.

Libatkan Penyandang Disabilitas

​Rangkaian acara diisi dengan berbagai aksi kreatif, meliputi dongeng satwa tentang gajah, pertunjukan tari kontemporer, menyanyi, dan pembacaan puisi.

Selain itu, penyelenggara juga membagikan stiker dan informasi konservasi mengenai gajah sumatera dan gajah kalimantan.

​Pembina Difpala, Ken Kerta, menyatakan bahwa peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kepedulian publik terhadap kelestarian gajah dan habitat aslinya.

​”Melalui Pentas Seni dan Dongeng Satwa, Difpala ingin menyampaikan pesan konservasi dengan cara yang menyenangkan, sekaligus membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk turut berperan aktif dalam edukasi konservasi dan pelestarian lingkungan,” ujar Ken.

​Aksi ini juga secara tegas menyuarakan tuntutan perlindungan habitat dan koridor ekologis gajah, penguatan penegakan hukum bagi pemburu liar, serta peningkatan standar kesejahteraan gajah di berbagai kebun binatang.

Ancaman Ekosistem Hutan

​Sementara itu, Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyoroti pentingnya peran gajah, baik secara historis budaya Nusantara maupun secara ekologis sebagai agen “petani hutan”.

​”Gajah begitu penting dan memiliki kedudukan tinggi dalam catatan sejarah kerajaan-kerajaan dan budaya Nusantara. Namun, nasibnya saat ini sangat miris.

Hidupnya penuh ancaman dengan kerusakan hutan sebagai habitatnya dan perburuan keji yang mengurangi secara drastis populasinya,” kata Annisa.

​Kolaborasi lintas komunitas ini mempertemukan isu pelestarian satwa liar dengan gerakan konservasi inklusif.

Pesan utamanya adalah bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama, di mana penyandang disabilitas memiliki hak sekaligus kemampuan yang sama untuk mengambil peran nyata di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.