Surabaya, arusindo.id — Di sebuah ruang pameran di Wisma Jerman, deretan foto terpajang rapi tanpa kemewahan berlebihan. Namun justru dari kesederhanaan itulah, pameran bertajuk “What We See” menghadirkan sesuatu yang berbeda: cara anak-anak melihat dunia.
Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya. Ia menjadi ruang dialog antara perspektif anak dan cara pandang orang dewasa yang kerap terburu-buru menilai sesuatu.
Para fotografer cilik dari Klub Fotografi SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo menggunakan kamera untuk menangkap hal-hal yang sering luput: cahaya di sudut ruang, ekspresi spontan teman, hingga detail kecil yang kerap diabaikan orang dewasa.
Kurator Idealita Ismanto mengkurasi pameran ini yang melibatkan 16 fotografer muda dalam proses penyajiannya.
Ruang Belajar yang Menjadi Panggung Karya
Dalam pembukaan pameran, Idealita menegaskan bahwa proyek ini lahir dari proses panjang, bukan sekadar hasil instan.
“Pameran ini merupakan ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan karyanya. Dari arsip karya selama hampir tiga tahun belajar, karya-karya yang terpilih menjadi pengingat bahwa fotografi bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk anak-anak, tentu dengan bimbingan yang tepat,” ujar Idealita.
Para anak menjalani proses belajar yang konsisten hingga menghasilkan setiap foto yang mereka pamerkan. Mereka tidak hanya mempelajari teknik memotret, tetapi juga melatih cara melihat, merasakan, dan memahami setiap momen.
Pameran ini menampilkan karya para fotografer muda seperti Rafardan Abhinara Atmaja, Keanu Pramono, Brian Delta Ramadhan, hingga Estrella Dya Kumaralalita sebagai bagian dari perjalanan visual mereka kepada publik.

Apresiasi dari Sekolah: Kebanggaan yang Tumbuh dari Proses
Kepala sekolah Ririn Indriyanti menyampaikan rasa bangganya melihat perkembangan siswa melalui karya fotografi mereka.
“Melalui pameran What We See, anak-anak menunjukkan bahwa mereka mampu mengamati, merasakan, dan menceritakan dunia di sekitar mereka dengan cara yang unik dan penuh makna,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa setiap karya bukan hanya hasil jepretan kamera, tetapi juga cerminan keberanian anak-anak dalam mengekspresikan diri.
“Semoga ini menjadi langkah awal bagi mereka untuk terus berkarya, berinovasi, dan percaya pada potensi yang dimiliki,” tambahnya.
Belajar dari Cara Anak Melihat Dunia
Dari perspektif lain, Mike Neuber melihat pameran ini sebagai ruang refleksi bagi orang dewasa.
Menurutnya, anak-anak memiliki cara pandang yang jujur dan tidak terbebani oleh standar penilaian yang rumit.
“Kita sebagai orang dewasa bisa belajar dari perspektif mereka. Pameran seperti ini sangat berharga karena membuka wawasan kita,” ujarnya.
Ia juga berharap pameran ini menjadi inspirasi untuk melihat hal-hal sederhana dengan cara yang lebih segar.
Kamera, Rasa Ingin Tahu, dan Kejujuran Visual.
Kamera, Rasa Ingin Tahu, dan Kejujuran Visual
Salah satu peserta, Celine Justopo, mengaku pengalaman belajar fotografi memberikan banyak kesan dalam hidupnya.
“Seru banget dan asyik. Aku bisa motret dan membuat foto yang menarik,” katanya.
Ia bahkan menerapkan ilmunya di rumah.
“Aku pakai buat bantu motret produk jualan papa,” tambahnya.
Dari lensa kecilnya, dunia terlihat leb0ih dekat, lebih sederhana, dan lebih jujur.
Ekspresi Bebas dalam Bingkai Foto
Karya-karya yang dipamerkan hadir dengan beragam pendekatan visual. Ada foto anak yang mengintip dari lubang tembok, potret ekspresi teman sebaya, hingga eksperimen dengan kecepatan rana rendah yang menghasilkan bentuk-bentuk visual yang tidak biasa.
Tidak semua foto terlihat “sempurna” dalam standar teknis. Namun justru di situlah kekuatannya, bebas, spontan, dan tanpa tekanan untuk terlihat ideal.
Lebih dari Sekadar Pameran
Selain menampilkan karya, pameran ini juga menghadirkan sesi diskusi bersama pendiri Disabilitas Berkarya, Leo Arif Budiman. Ia membagikan pengalaman tentang proses belajar fotografi, termasuk tantangan yang dihadapi dalam dunia visual.
Diskusi ini memperluas makna pameran, bahwa fotografi bukan hanya soal kamera, tetapi juga tentang akses, proses belajar, dan keberanian untuk bercerita.
Dunia yang Sebenarnya Sederhana
“What We See” meninggalkan satu pesan yang pelan tapi kuat: dunia tidak selalu serumit yang orang dewasa bayangkan.
Melalui mata anak-anak, hal-hal kecil berubah menjadi cerita.
Cahaya menjadi bahasa, ekspresi menjadi narasi, dan momen sederhana menjadi karya.
Pameran ini berlangsung pada 7–9 Juni 2026 dan terbuka untuk umum. Namun lebih dari sekadar jadwal pameran, ia adalah undangan untuk berhenti sejenak dan melihat dunia sebagaimana anak-anak melihatnya: jujur, polos, dan tanpa beban.
