SURABAYA, Arusindo.id – Hanaka Social Space menghadirkan konsep berbeda bagi anak muda Surabaya melalui program Pop Up Market bulanan yang memadukan ruang nongkrong, edukasi lingkungan, hingga dukungan bagi pelaku UMKM lokal.
Melalui kegiatan tersebut, Hanaka Social Space ingin mengajak generasi Z lebih peduli terhadap isu perubahan iklim dan persoalan sampah plastik yang masih menjadi tantangan besar di wilayah perkotaan. Kampanye lingkungan itu dikemas dengan konsep santai agar lebih mudah diterima oleh anak muda yang selama ini identik dengan budaya nongkrong di kafe.
Dalam acara pembukaannya, Hanaka Social Space menggandeng komunitas pengolah limbah plastik lokal yang fokus mengubah sampah plastik menjadi berbagai produk furnitur ramah lingkungan. Furnitur hasil daur ulang tersebut dipamerkan kepada pengunjung sebagai bentuk edukasi bahwa limbah plastik sebenarnya masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi jika dikelola secara kreatif.
Selain mengenalkan produk daur ulang, kegiatan tersebut juga diisi dengan aksi penghijauan sederhana berupa menanam tanaman di dalam pot bersama para peserta yang hadir. Aktivitas itu menjadi simbol ajakan untuk mulai membangun kebiasaan kecil menjaga lingkungan dari sekitar tempat tinggal maupun ruang publik.
Owner Hanaka Social Space, Prasetyo Hadi Susanto, mengatakan bahwa pelaku usaha saat ini tidak cukup hanya berfokus pada keuntungan bisnis semata. Menurutnya, dunia usaha juga memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu perubahan iklim.
“Kita ingin membangun kebiasaan kecil yang nantinya bisa menjadi budaya positif. Menanam tanaman dan mengurangi sampah plastik adalah langkah sederhana yang bisa dimulai dari lingkungan sekitar,” ujar pria yang akrab disapa Bang Yok tersebut saat membuka acara.
Bang Yok menjelaskan, konsep Pop Up Market sengaja dibuat sebagai ruang kreatif yang dapat mempertemukan komunitas, pelaku UMKM, hingga anak muda dengan berbagai isu sosial dan lingkungan. Dengan pendekatan yang lebih santai dan dekat dengan gaya hidup Gen Z, pesan kampanye lingkungan diharapkan dapat tersampaikan lebih efektif.
Ia juga menilai bahwa pengelolaan sampah plastik perlu mendapatkan perhatian lebih karena limbah tersebut masih menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan terbesar di kota-kota besar, termasuk Surabaya. Karena itu, kolaborasi dengan pengrajin furnitur berbahan plastik daur ulang menjadi contoh nyata bahwa sampah dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai jual.
“Alam merupakan titipan untuk generasi masa depan, bukan warisan masa lalu. Jadi apa yang kita lakukan hari ini akan sangat menentukan kondisi lingkungan di masa mendatang,” lanjutnya.
Ke depan, program Pop Up Market Hanaka Social Space akan digelar secara rutin setiap bulan dengan menghadirkan berbagai kegiatan kreatif seperti bazar UMKM, pertunjukan seni, diskusi komunitas, hingga kampanye sosial lainnya yang relevan dengan kehidupan anak muda Surabaya.
