SAMPANG | ArusIndo.id – Di Kecamatan Kedungdung, gas elpiji subsidi 3 kilogram tampaknya sedang menjalani fase “langka tapi mahal”. Warga bukan hanya kesulitan menemukan si tabung hijau, tapi juga harus siap merogoh kocek lebih dalam seolah membeli barang langka, bukan kebutuhan pokok.
Di pangkalan resmi, gas melon sering kali lebih cepat habis daripada harapan warga. Sementara di tingkat pengecer, harganya seperti ikut lomba lari melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang seharusnya menjadi garis finis.
Sejumlah warga mengaku kini membeli gas dengan perasaan campur aduk: antara kebutuhan dapur dan kejutan harga. Salah satu warga Kedungdung menyampaikan keluhannya dengan nada getir.
“Sekarang LPG 3 kg itu seperti barang eksklusif, mas. Dulu Rp19 ribu sampai Rp20 ribu, sekarang bisa Rp23 ribu sampai Rp27 ribu. Bahkan ada yang tembus Rp30 ribu,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, pilihan warga semakin sederhana: membeli mahal atau tidak memasak sama sekali. Dan tentu saja, dapur tidak bisa diajak kompromi.
“Harapannya ada solusi dari pemerintah dan polisi. Karena ini kebutuhan, mau tidak mau tetap dibeli walaupun mahal,” tambahnya.
Kekhawatiran pun mulai merambat ke masa depan. Jika kondisi ini terus berlanjut, modernitas dapur bisa saja mundur beberapa dekade.
“Kalau terus begini, bisa-bisa kami balik lagi ke zaman dulu, masak pakai kayu bakar,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.
Sementara itu, pihak terkait mengaku masih dalam tahap “koordinasi”. Plt Kepala Diskopindag Sampang, Syamsul Bahri, menjelaskan bahwa secara teori, harga sudah tersusun rapi dari hulu ke hilir.
“Dari Pertamina ke pangkalan Rp16 ribu, ke masyarakat sekitar Rp18 ribu. Biasanya ke pengecer sekitar Rp20 ribu,” ungkapnya.
Namun praktik di lapangan tampaknya punya logika sendiri. Ketika ditanya soal harga yang melonjak di bawah, pihaknya mengaku belum mendapatkan laporan detail.
“Di pangkalan mana itu, nanti kami coba koordinasi ke bawah. Yang jelas, harga tetap mengacu pada ketentuan,” tegasnya.
Di sisi lain, aparat kepolisian bersama Forkopimcam sudah turun langsung melakukan pengecekan. Langkah ini menjadi respons atas keresahan warga yang mulai mempertanyakan: apakah gas subsidi ini benar-benar subsidi, atau sekadar “ilusi harga murah”?
Hasilnya? Di lapangan, harga tetap bertahan di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per tabung—jauh di atas HET yang sekitar Rp18 ribu.
Akhirnya, di tengah koordinasi yang terus berjalan dan harga yang terus merangkak, warga hanya bisa berharap satu hal: semoga gas melon segera kembali ke habitat aslinya murah dan mudah didapat, bukan langka dan penuh drama.
Penulis : Mam
Editor : zeedhenk
